Jumat, 20 Januari 2012

Bahaya Fitnah


Bismillah….

Dalam sejarah Islam terkenal sebuah kisah besar tentang fitnah yang menimpa ‘Aisyah Radhiyallahu anha istri Rasulullah SAW, yang telah diftnah berbuat selingkuh dengan salah seorang shahabat bernama Shafwan bin Mu’aththal. Orang-orang munafiq menghembuskan fitnah itu dalam rangka mendiskreditkan keluarga Rasulullah SAW.
Dengan menyebarkan fitnah itu mereka berharap bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alahi wasallam beserta keluarganya akan kehilangan kepercayaan dari kaum muslimin. Kepercayaan adalah pintu kesetiaan, kesetiaan adalah pintu untuk mendapatkan dukungan dan dukungan adalah pintu untuk meraih keberhasilan. Maka untuk menggagalkan dukungan dari kaum muslimin, orang-orang munafiq menebarkan fitnah untuk menghilangkan kepercayaan kaum muslimin kepada Rasulullah dan keluarganya.

Begitu besarnya bahaya fitnah tersebut terhadap kelangsungan dakwah Rasulullah SAW, maka Allah merasa perlu membersihkan nama ‘Aisyah dengan menurunkan beberapa ayat-Nya, QS. An-Nuur : 12
 “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata”. Juga firman Allah yang artinya, “(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar”. [QS. An-Nuur : 15-16]

Allah juga menandaskan bahwa fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan [QS Al Baqarah : 191].

Diantara sesama orang beriman harus tumbuh sikap saling mempercayai. Dia tidak suka mendengar berita kejelekan atau kejahatan orang beriman yang lain, sebagaimana dia tidak suka kalau dirinya diberitakan seperti itu juga. Dia akan senantiasa khusnudhon terhadap sesama saudara seiman.

Maka dalam Islam dikenal istilah tabayyun, mencari penjelasan tentang kebenaran suatu berita. Perlu dilakukan check and recheck terhadap kebenaran suatu berita, kalau perlu cross check agar terungkap kebenaran yang sesungguhnya. Sehingga informasi yang masuk tidak salah, dan keputusan yang diambil tidak mendatangkan mushibah, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya QS. Al-Hujuraat : 6,
 “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu mushibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. Semoga Allah selamatkan kita dari fitnah dan berbuat fitnah.
Rasulullah Shalallahu alahi wasallam bersabda :

Fitnah-fitnah didatangkan kepada semua hati...Hati manapun yangmengecapnya, tertorehlah padanya satu noda hitam.” (Shahih Muslim, kitab Iman, bab ke65, hadits no. 231, dan lafazhnya diriwayatkan oleh Imam Ahmad 5/386.)

Orang yang berjalan padanya (fitnah) lebih baik daripada yang berlari, barangsiapa yang mengintainya, niscaya ia menguasainya.” (Shahih al-Bukhari, kitab fitnah-fitnah, bab ke-9, hadits no.7081)

Dan sering sekali fitnah menjadi besar saat seseorang mengambil sikap atas dasar kesalahpahaman. Dan yang lebih berbahaya lagi dalam menyulut api fitnah adalah mendahulukan pendapat pribadi di atas hukum syara’. Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari, bahwasanya Sahl bin Hanif  Radhiyallahu anhu berkata saat terjadinya fitnah di antara para sahabat radhiyallahu ‘anhum: ‘Wahai sekalian manusia, curigalah terhadap pendapat pribadimu di atas agamamu...” (Shahih al-Bukhari, kitab al-I’tisham, bab ke-7, hadits no.7308, mauquf kepada Sahl bin Hanif )

Hikmah dibalik fitnah
Dalam Ensiklopedi Al-Qur’an, fitnah berasal dari kata fatana yang berarti membakar logam, emas atau perak untuk menguji kemurniannya (memisahkan dari emas dan kotorannya). Bila dalam pertemanan penyebaran fitnah menjadi batu ujian, akan terlhat jelas mana kawan dan mana lawan, mana sahabat dan mana tukang hujat.

Di antara hal yang dapat menyelamatkan dari fitnah adalah bahwa engkau tidak menuntut hakmu dalam urusan dunia, sekalipun sabar dalam hal itu terasa berat sekali. sebagaimana yang diriwayatkan dalam Sunan Abu Daud:

'Sesungguhnya keberuntungan bagi orang yang menjauhi fitnah –(beliau mengucapkannya) tiga kali-, dan bagi orang yang mendapat cobaan, maka ia bersikap sabar, alangkah indahnya sabar terhadap bala.' (Shahih Sunan Abu Daud, Syaikh al-Albani, hadits no. 3585)

Di dalam Musnad Ahmad:
"Dan apabila engkau menghendaki fitnah terhadap hamba-hamba-Mu, hendaklah engkau mengambilku kepada-Mu, tanpa terlibat fitnah." (Shahih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab ke-15, hadits no. 7089)

Dalam doa Umar Ibnu Khattab : 'Kami berlindung kepada Allah _ dari kejahatan segala fitnah.'
(Shahih al-Bukhari, Kitab al-Fitan, bab ke-15, hadits no. 7090),  Dan Anas  berkata: 'Berlindung kepada Allah _ dari segala fitnah.' (Shahih al-Bukhari, Kitab al-Fitan, bab ke-15, hadits no. 7090)

Dan yang menyelamatkan engkau di sisi Allah  bahwa engkau mengingkarinya dan tidak ridha dengannya, serta jangan membantu atasnya. wallahu 'alam

Kamis, 19 Januari 2012

INVASI MONGOL

   Shalahuddin menjadi kekuatan terdepan dalam menghapus Negara Salib dan berhasil meraih keamanan kembali setelah hilang karena kesalahan sendiri. Akan tetapi pelajaran baru segara datang, ummat kembali kehilangan rasa amanya karena para generasi penerus lalai dalam mengambil pelajaran masa lalu.

   Pada awal Abad ke-13, datang ancaman bahaya baru yaitu Mongol. Mongol adalah sebuah suku dari Tartar yang mendiami Asia Tengah, Jenghis Khan telah membangun kerajaan Mongol Raya, sebuah kerajaan terbesar yang dikenal sejarah dalam waktu yang tidak lama, dengan melakukan penghancuran dan pembantaian yang sangat buruk dalam catatan sejarah. Kekuasaan mereka mulai dari sungai Dpiner di Rusia sampai sungai Indus di India.

Serangan Mongol mulai mengancam Irak. Akan tetapi, Khalifah Abbasiyah, Al Musta’shim (640-656 H/1242-1258 M), ketimbang waspada, ia justru terlena dalam tidurnya dan mengira bahwa masalah Jengis Khan dan penggantinya Haloko Khan akan menjauh darinya, sedangkan ia merasa hidup terus dalam damai.

   Kenyataan berbicara lain, sang Khalifah dikejutkan oleh peristiwa penghancuran Baghdad pada tahun 1258 M/ 694 H yang menujukan bahwa permainan sudah usai. Sang Khalifah siap melakukan apa saja kecuali untuk bertahan dan melawan, ia  mengutus menterinya Muayiduddin al-Alqami untuk berundingan dengan Haloko Khan, dengan kesepakatan agar para petinggi Kerajaan, tentara dan keluarga Khalifah menyerahkan diri kepada Haloko Khan dengan imbalan sang Khalifah dijamin keselamatan hidupnya. Namun beberapa saat kemudian sang Khalifah bodoh itu menghetahui bahwa dirinya ditipu mentah-mentah oleh Haloko Khan, sang Khalifah dan para pengikutnya dipenjara, lalu disembelih satu persatu termasuk wanita dan anak-anak.

   Haloko Khan berserta pasukannya memasuki kota Bagdad dan membantai 1.000.000 penduduknya dalam sebuah bentuk panyembelihan yang paling tragis, yang dikenal dalam sejarah dan semua perpustakaan yang berisisi jutaan buku yang sangat berharga dibakar habis.

   Kini giliran Mesir, Haloko mengirim peringatan keras kepada sultan Mesir (Saifuddin Quthuz) agar menyerah tanpa syarat. Apa-apa yang terjadi di Irak, Syiria, Lebanon dan Palestina juga akan terjadi pula pada Mesir apabila bila Mesir tidak berani memberikan perlawanan. Masyarakat Mesir menyadari bahwa keamanan mereka sudah hilang karena sikap lalai Khalifah Abbasyiah di Baghdad dalam menjaga keamanan Negara Islam secara keseluruhan.

   Dengan mengambil pelajaran yang didapat dari Shalahuddin al Ayubbi dalam menghadapi kaum Salib masih kuat dalam ingatan, dan semangat perlawanan yang di gelorakanya pun masih hidup dalam ingatan masyarakat Mesir. Dengan membawa rasa percaya pada kekuatan sendiri dan tidak mengutamkan keselamatan pribadi, maka Mesir bergerak sebagai pihak pasukan penyerang menyambut pasukan Tartar di Palestina.

Pasukan Mesir memenangkan pertempuran yang sangat menentukan di ‘Ain Jalut pada tanggal 3 September 1260 M. seorang sejarawan Muslim (al Maqrizi) mengabadikan kemenangan ini dalam tulisanya bahwa ketika pasukan Mongol menerima permohonan bantuan dari Aleppo, mereka membuang semua logisitk yang dibawa dan melepaskan semua tawanan. Kemudiaan mereka menempuh jalan pantai, maka disinilah ummat Islam menghadang mereka, lalu menyerang pasukan Mongol dan menawan mereka. Ketika Haloko mendengar kehancuran pasukanya dan wakilnya (Katibgha) telah terbunuh, ia merasa gentar karena pasukannya tidak pernah kalah sebelumnya dan ia pun pergi melarikan diri.

   Yang mewujudkan kemenangan dalam pertempuran Hitthin (538 H/1187 M) melawan kekautan Salib pada abad ke-12 Shalahuddin, sedangkan kemenangan pada paretempuran ‘Ain Jalut pada tahun 1260 M adalah az Zhahir Baibar, pribadi kedua tokoh ini sangat berbeda, Shalahuddin adalah singa sedangkan az Zhahir Baibar adalah Harimau. Keberhasilan Mesir dalam menghentikan gerak maju pasukan Mongol di luar perbatasan dan sikap aktif mereka dalam menghadapi Mongol di Palestina ketimbang menunggu serangan dari dalam negeri telah menyelamatkan Mesir dari nasib yang mengerikan sebagaimana yang dialami di Baghdad dan Syiria.    

   Dalam catatan sejarah peristiwa invasi Mongol juga pernah terjadi di tanah Jawa, pasukan Invasi Kublai Khan yang dipimpin oleh Che-pi dengan membawa pasukan sekitar 100.000 orang termasuk pasukan Kavaleri dengan diangkut sekitar 1000 kapal. Pasukan meninggalkan Kanton pada tahun 1292 M dengan target eskpedisi itu adalah Jawa.

   Aramada itu sampai ke Jawa pada tahun 1293 M dengan pasukan mereka yang menyusut karena parjalanan mereka yang sangat panjang. Che-pi bersekutu dengan Partisan Raden Wijya untuk menghadapi Singosari, pertama kali yang dapat direbut adalah Tuban dipesisir utara Jawa, karena disanalah kapal-kapal Jawa bersandar, dalam pertempuran singkat semua kapal dapat ditawan.

   Para pemimpin Mongol membagi kekuatan mereka menjadi sebuah armada, yamg kemudiaan dikirim ke Sumatera untuk manaklukkan kerajaan Melayu dan berhasil mengalahkan Vasal-vasal kerajaan Sumatera, sedangkan pasukan darat bergerak menuju ke Kediri. Raden Wijaya menyerang granisun-granisun Kediri yang dijaga oleh para pendekar Jawa, sementra pihak Mongol bertempur dengan pasukan Jayakatwang, kalah dengan jumlah pasukan dan perpaduan serangan akhirnya Kediri ditaklukkan dan Jayakatwang dipakasa untuk menyerah kepada Che-pi 26 Maret 1293 M.

   Raden Wijaya mengkhianati Che-pi dan mengumpulkan semua kekuatan Jawa yang masih tersisa dan mulai pemberontakan menyeluruh terhadap pihak Mongol. Karena jumlah pasukanya menyusut selama dua bulan aksi militer, pasukan Mongol mundur ke Surabaya dan kembali ke kapal-kapal mereka menuju pulang dengan mengalami banyak kerugiaan, dan disaat mereka sampai ke negerinya Kublai Khan Tengah sekarat dan meninggal pada tahun 1295 M.

Sumber : Dari berbabagai sumber buku sejarah

Jumat, 13 Januari 2012

Jangan Ampe Lupe

Dodo sepulang dari sekolah bercerita pada babehnya yg gak pernah sekolah.
"Be..tadi aye dimarahin ama pak guru."
"Emang loe salah ape Do.."
"Tadi aye kagak bisa jawab pertanyaan pak guru."
"Emang loe ditanye ape..?"
"Pak guru tanye..dimana letaknya Washington.."
"Mangkenye Do.. laen kali kalo' loe ngeletakin sesuatu jangan ampe lupe letaknye. yee"

Terbesar bagi Karyawan

Motivasi terbesar adalah naik gaji.
Kesialan terbesar adalah promosi tanpa kenaikan gaji.
Kejutan terbesar adalah bekerja biasa tapi tiba-tiba gaji naik.
Bakat terbesar adalah berpura-pura sibuk tapi tak melakukan apa-apa.
Kesalahan terbesar adalah membantah bos.
Penurun semangat terbesar adalah terlambat menerima gaji.
Kebahagiaan terbesar adalah menjadi bos dari bos sekarang.
Kecerdikan terbesar adalah datang terlambat tapi bos tidak tahu.
Kebiasaan terbesar adalah bos mengatakan sesuatu padahal artinya lain.
Keinginan terbesar adalah memecat bos sendiri.
Kekesalan terbesar adalah anda bekerja keras tapi orang lain yang dipuji.
Kesedihan terbesar adalah tidak menerima gaji karena bos melarikan diri.

Rabu, 11 Januari 2012

Alternatif penganti BBM

Khusus bagi pengendara motor ngak usah khawatir akan efek kenaikan BBM, soalnya
ada solusi yg sangat jitu dan telah terbukti oleh para ilmuan di Amerika. Dari hasil uji lab
yg dilakukan oleh para ilmuwan, membuktikan bahwa air teh dapat dijadikan alternatif
baru pengganti BBM.
Caranya:
1. Gunakan wadah berupa gelas, cangkir, dll
2. Siapkan teh (teh celup, teh hijau, atau apalah yg penting teh) secukupnya
3. Siapkan gula pasir 1 sendok makan.
4. Didihkan air panas hingga 90 derajat celcius.
5. Masukkan teh kedalam air mendidih, lalu masukkan gula.
6. Campur dengan es, lalu masukkan ke dalam botol. selesai.

Mudah bukan, setelah itu tinggal dorong deh tuh motor, kalau haus minum itu teh.
Terbukti motor tetep jalan tanpa menggunakan BBM.

Sabtu, 07 Januari 2012

Ruang Lingkup Islam


Makna ruang lingkup Islam, terbagi menjdi dua :

   Ruang lingkup Islam dalam artiannya yang  sempit adalah “arkanu Islam” (rukun Islam yang lima)

ﺍﻹﺳﻼﻢ ﺃﻥﺷﻬﺎﺩﺓﺃﻻ ﺇﻟﮫ ﺇﻻ ﺍﷲ٬ ﻭﺇﻗﺎﻢﺍﻟﺼﻼﺓ٬ ﻭﺇﻴﺘﺎﺍﻟﺯﻜﺎﺓ٬ ﻭﺼﻴﺎﻢﺭﻤﺿﺎﻦ٬ ﻭﺤﺞﺍﻟﺒﻴﺕ۰

   “Islam adalah, bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah, mendirikan Shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ranadhan dan haji ke baitullah”
                                                                                               (Hr. Muslim) 

Ruang lingkup Islam  dalam artianya yang luas meliputi :
1.      Aqidah
2.      Syari’at
3.      Akhlak

                               
1.     Aqidah

   Aqidah berasal dari bahasa Arab yang berarti ikatan atau mengikat, sedangkan dalam pengertiaan Ushuluddin Aqidah adalah keyakinan yang kokoh, tertancap didalam hati seseorang, diantaranya:

1.      Beriman kepada Allah Ta’ala
a.      Tauhid Rububiyah توحيد الربوبية (keyakinan terhadap ke-Esaan Allah sebagai pelaku tunggal) Dialah Maha pencipta, pemilik, yang menghidupkan dan mematikan, yang memberi rezeki dan lain sebagainya Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. “Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.. (Qs, al-Baqarah 284, 258) (Lukman : 31, , Yunus: 36)
b.      Tauhid Uluhiyah توحيد الألوهية ، أو " توحيد العبادة  (keyakinan terhadap Allah sebagai Zat yang haq untuk di ibadahi), “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul kepada setiap umat (untuk menyerukan) sembahlah Allah dan jauhilah Thaghut. (Qs, an Nahl :36)
c.       Tauhid Asma wa Sifat توحيد الأسماء والصفات (keyakinan bahwa Allah memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang sempurna) tanpa dengan cara-cara : Tahrif (memalingkan makna yang sebenarnya kepada makna yang lain) (Qs, al Baqarah:75) Ta’thil (menghapus atau menolak), Takyif (mempertanyakan   atau divisualkan) 
2.      Beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya (Qs, An Nisa:136, al Baqarah:285)
3.      Beriman kepada Kitab-kitab-Nya (Qs, al-Hadid :25)
a.      Iman kepada seluruh kitab-kitab Allah secara global (umum) (Qs, al Baqarah : 213)
b.      Iman kepada kitab Allah yang diketahui keberadaanya dan Rasul pembawanya, seperti, Taurat oleh Musa as (Qs, al Furqon :35), Zabur oleh Daud as (Qs, al-Isra :55), Injil oleh Isa as (Qs, al Hadid :27), dan Al-Qur’an oleh Muhammad Saw (Qs, al Maidah :48)   
4.      Beriman kepada Al-Qur’an
a.      keterjagaan Al-Qur’an (Qs, al Hijr:9)
b.      keabadiaan syari’at yang dibawa al Qur’an untuk siapa saja dan kapan saja (Qs, al Furqon: 1, al ‘Araf: 158)
c.      sebagai batu ujiaan terhadap kitab-kitab sebelumnya (Qs, al Maidah: 48)
d.      menghapus (Naskh) syari’at kitab-kitab terdahulu (Qs, Ali Imran: 1-4, al-Maidah: 43-44) 
5.      Beriman kepada para Rasul-rasul-Nya (Qs, al-Baqorah: 285, An Nisa: 136)
6.      Beriman kepada Risalah Muhammad Saw
Sikap kita kepada Nabi dan Rasullullah saw :
·        Tidak berlebihan (Ifrath): terlalu berlebihan dilarang dalam akidah Islam, apalagi sampai taraf mengultuskan dan menuhankan seprti orang-orang Nasrani terhadap Isa Ibnu Maryam, yang harus kita pahami ialah, para Nabi dan Rasul juga seorang manusia biasa, ia wafat (Qs, al Imran: 144), makan, mencari nafkah (Qs, al-Furqon: 7-10) dan tidak mengetahui hal yang gahib (Qs, al An’am: 50, al A’araf:188)
·        Tidak meremehkan (Tafrith): meremehkan para Nabi pun dalam akidah Islam dilarang, orang-orang Yahudi telah banyak meremehkan para Nabi dan Rasul yang diutus kepada mereka, bahkan sampai ada yang dibunuh, dalam prinsip akidah Islam yang benar adalah bersikap pertengahan (tidak berlebihan dan meremehkan), karena beberapa hal yaitu: bahwa seorang Rasul mempunyai misi yang ia emban dari Allah (Qs, al A’raf :158), ma’shum (Qs, Abasa: 1-12), utusan buat Ummat manusia (Qs, Saba’: 28)
7.      Beriman kepada hari Akhir (Qs, Ar Rahman: 26-27, Az Zumar 68-70)
8.      Beriman kepada siksa kubur (Qs, Al An’am: 93-94, At Taubah 101)
9.      Beriman kepada Qadha dan Qadar (Qs, Al Hijr: 21, Al Hadid: 22)
10. kewajiban menghormati para sahabat Rasulullah Saw dan kewajiban taat kepada pemimpin kaum Muslimin, Rsulullah Saw bersabda : “ Janganlah kalian mencaci maki sahabat-sahabatku, jika salah seorang dari kalian berinfak dengan emas sebesar gunung uhud, maka infak tersebut tidak mencapai satu mud (6 ons) meraka atau setengahnya” (Hr, Bukhari dan Abu Daud)

   Aqidah yang shahih bersumber dari Al-Qur’an, As Sunnah, dan sumber kebutuhan manusia yang paling mendasar, seperti :

1.      Membentuk Tashawwur (dorongan untuk berbuat), Tashawwur terbagi dua yaitu : Tashawwur yang Matrealistis (tujuaanya hanya dunia) (Qs, Al-‘Araf : 113,138), dan Tashawwur yang Immatrealistis (Qs, Yunus : 72)
2.      Agar terhindar dari Iftiraq (perpecahan), Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah Saw bersabda : “kaum Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan, kaum Nasarani terpecah menjadi 72, sedangkan umatku terpecah menjadi 73 golongan” (Hr. Tirmidzi, Abu Dawud, Hakim).
3.      Fondasi untuk tegaknya Islam, Iman dan Ikhsan.
4.      Upaya potensi dari berbagai : kesengsaraan (Qs, Ma’arij : 19-23), konflik batin yang berkepanjangan, kehinaan seperti hewan (Qs, Al-Anfal : 22)
5.      Sebagai fondasi lahirnya amal Shalih (Qs, Ibrahim : 24-25)


Sebab-sebab terjadi penyimpangan Aqidah, diantaranya :

1.      Kebodohan (jahl) (Qs, al-Qashsash : 50)
2.      Fanatic terhadap leluhur (ta’ashub) (Qs, al-Baqarah :170)
3.      Mengekor (taqlid buta), “Sungguh kamu sekaliaan benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang buruk dari orang-orang sebelum kamu” (HR. Tirmidzi)
4.      Berlebih-lebihan (Ghuluw), “janganlah kamu sekaliaan mengagung-agungkan ku (ifrath/berlebih-lebihan dalam pemujaan) sebgaimana oaring-orang Nasrani telah mengagung-agungkan putra Maryam, aku ini hanyalah seorang hamba ; maka katakanlah : hamba Allah dan Rasul-Nya (HR. Bukhari dan Muslim)
5.      Lalai terhadap ayat-ayat Allah (Tadabbur) (Qs, Ali Imran : 118)
6.      Cinta dunia (Wahm) ( Qs, al-Kahfi : 28)







2.      Syari’at

  
    Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama[1340] dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (Qs, Asy-Syura : 13)

Pada garis besarnya hukum Syari’at terbagi menjadi dua dalam kaidah fiqh  :

1.      Ibadah
Para Ulama salaf menetapkan kaidah dalam pengambilan hukum Ibadah  dengan menggunakan dalil (Al Qur’an dan Sunnah) karena pada dasarnya Ibadah itu haram sebelum ada dalil (Al Qur’an dan Sunnah) yang memerintahkanya.
ﺍﻷﺻﻞ ﻓﻲﺍﻹﺒﺪﮦ ﺗﻮﻗﻔﻴﻪ ﻮﺇﺘﺒﻊ

“Dasar asli pokok ibadah adalah tauqifiyah (bersumber dengan dalil) dan Ittiba’ (mengikuti sunnah)”

2.      Muamalah
berbeda dengan ibadah, muamalah pada semua bentuknya mubah (boleh dilakukan), kecuali ada dalil yang mengharamkanya.
      ﺍﻷﺻﻞ ﻓﻲﺍﻠﻤﻌﺎﻤﻼ ﺖﺍﻹﺒﺎ ﺒﺔ ﺍﻥﻴﺪﻝ ﺪﻠﻴﻝﻋﻠﻰ ﺘﺣﺭﻴﻤﮭﺎ

“Dasar semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkanya.”

Ruang lingkup Sya’riah :
  1. sebagai tuntunan hidup (ad din)
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan  pada fitrah Allah. (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya” (Qs, Ar-Rum : 30)

2.      sebagai arahan moral (al-Millah) (Qs, Yusuf : 37)


Yusuf berkata: "tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. (Qs, Yusuf 37)

3.      sebagai panduaan hukum (al-hukmu) (Qs, Al-Jatsyiah : 16)

  
“dan Sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezki-rezki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya)”. (Qs, Al-Jatsyiah : 16)
                          
4.      sebagai pembatas halal dan haram (al-hudud) (Qs, Al-Baqarah 230)
“kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga Dia kawin dengan suami yang lain. kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui”. (Qs, Al-Baqarah 230)

Beberapa kemaslahatan Sya’riat :
1.      Bersifat abadi dan sejati (Mashalihul ‘ibad)
2.      tidak mengandung unsur kepicikan (nafyul haraj)
3.      beban yang ringan (Qillatul at-taklif)
4.      mewujudkan keadilan yang merata (‘adalah ‘ammah’)
5.      menutup celah kejahatan (saddu az-dzara’i)

nilai plus Syari’ah

1.      Rabbaniyah dan Uluhiyah, yaitu prinsip-prinsip tauhid (keimanan) yang membedakan bobot nilai, sehingga menusia tidak sia-sia melakukan tindakan hukum.
2.      Al-Mubasyarah, prinsip langsung tidak memerlukan perantara.
3.      prinsip tasamuh (equality), semua berkedudukan sama di hadapan hukum.


3.     Akhlak

   Akhlak adalah pelengkap dalam ajaran Islam, dalam hal ini Rasullulah Saw yang berperan memberikan contoh ideal bagi perilaku manusia, ia meletakan prinsip-prisip dasar yang harus diikuti manusia agar bersikap lurus, konsisten dan benar, di samping mengkaji puncak kebaikan sebagai tujuaan manusia yang paling tinggi

ﺇﻧﻤﺎﺒﻌﺜﺖﻟﺍﺘﻤﻢﻤﮑﺎﺭﻢﻟﺍﺧﻟﺍﻕ
“sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”(HR.Bukhari & Ahmad)

   Akhlak yang benar bertujuaan menjadi pedoman bagi prilaku manusia yang permanen bukan hanya sebatas teori belaka, melainkan harus menjadi ilmu teknik yang dapat diformat dimana prinsip-prisipnya berlaku ditengah-tengah masyarakat dengan keindahan serta kelembutan akhlak yang mulia.

“orang mukmin yang paling sempurna imanya adalah orang yang paling baik akhlaknya” (Hr. Tirmidzi)

   Kitab suci Al-Qur’an telah merangkum  dengan baik seluruh dimensi akhlak mulia dan merangkainya dalam rangkaian yang sempurna, dimana Rasulullah Saw telah menjalankannya dan menerapkanya dengan sebaik-baiknya.

Aisyah r.a  berkata: “Akhlaknya Rasulullah Saw adalah Al Qur’an” (Hr Muslim)

Sumber : Makalah Ibrahim, Al Islam
Wallahu 'alam

Kawan Seperjalanan




Waktu mengajarkan kita bahwa hidup ini sejatinya adalah sebuah perjalanan panjang dimana bukan hanya tawa kebahagian yang kita lewati, tetapi juga ingatan akan penderitaan
Kawan, aku hanya menganggap diri ini sebagai seorang musafir, seorang pendatang dan perantau di dunia ini. Tidak ada tempat yang terbaik yang harus kita diami, selalu saja ada waktu dimana kita harus membongkar kemah kita atau membungkus secuil perbekalan kita (kalau pun ada) untuk kemudian melanjutkan perjalan sampai ke tempat yang dirindukan.
Seperti halnya banyak orang lain, kita pun sering mengira-ngira bahwa sekiranya kita melakukan ini atau itu, atau mendapatkan ini dan itu, maka kita akan merasa nyaman dan tenang dan perjalanan kita menjadi lebih mudah. Dengan demikian, kita menjadi merasa berguna atau kita merasa hebat, tetapi justru itu merupakan sebuah awal yang salah untuk memulai sebuah perjalanan. Sejatinya kita tidak lebih hebat dan lebih berguna dengan semua itu, bukan apa yang kita peroleh dan yang kita kerjakan yang membuat kita hebat, tetapi sebuah kasih sayang yang menerima kita apa adanya justru yang membuat kita menjadi pribadi yang berarti.
Kawan, hidup ini penuh dengan ketidak sempurnaan. Hubungan-hubungan yang rapuh, kepahitan, kesendirian, harapan yang tidak sampai, pengkhianatan, hati yang patah dan hancur, kekecewaan dan semua hal yang sepertinya bagaikan memburu-buru berlelah untuk ketidakpastian dan ketidakcukupan.
Banyak sekali beban yang tidak  harapkan yang justru membebani diri kita ini di dalam melangkah, diri ini  jadi kecut dan tawar hati, kemarahan memuncak di dalam diri dan siap membakar, tetapi semua itu justru membuktikan bahwa memang sejatinya diri kita tidak berdaya, kita bangkrut, rubuh dan patah.
Bukankah kita semua pernah mentertawakan semua kebodohan kita, kekita kita menjadi sensitif dan menjadi tidak sabar dengan segala sesuatunya ketika apa yang kita harapkan tidak sampai, atau merasa kata-kata yang paling bijak pun dari orang lain menjadi sebuah serangan atas harga diri kita, namun selalu saja kita jatuh di dalam kesalahan yang sama.
Kita menjadi tidak “jenak” (tenang), tegang dan hubungan-hubungan dengan sesama kita menjadi hancur. Kita ingin menjadi pahlawan dengan segala ketidaksempurnaan yang terjadi, tetapi justru kita malah menjadi pecundang yang tidak berdaya.
Semua itu bagaikan duri di dalam hidup , tetapi justru di dalam semua itu kita sejujurnya merindukan anugerah yang memampukan kita mengatasi itu.
Di dalam ketidaksempurnaan yang endemik ini, kita akhirnya menyadari supaya Allah yang Maha Sempurna telah menganugrahi kita kekuatan untuk mengatasi hal ini. Kawan, sebenarnya hati ini miris dan getir ketika mengingat semua kebodohan itu. Waktu justru membuktikan kepada kita, bahwa bukan kuat dan gagah yang bisa kita andalkan untuk melajutkan perjalanan kita, tetapi kita membutuhkan kekuatan dari yang Maha Kuasa untuk memampukan kita melanjutkan perjalanan ini.
Kawan, kita akhirnya perlu untuk berkata kepada jiwa kita,“mengapa engkau tertekan hai jiwaku dan gelisah di dalam diriku?” Ya mengapa? Tidak ada alasan kita untuk tertekan dan gelisah ketika kita menggantungkan kehidupan kita kepada Allah (Tawakal).
Kawan, kita harus menyadari bahwa jiwa kita ini seharusnya selalu merindu-Nya. Merindukan-Nya merupakan sebuah energi yang tiada habisnya yang senantiasa memotivasi perjalan seorang musafir. Bukankah kerinduan itu membuat jiwa kita bergetar-getar menanti-nantikan saatnya penemuhan itu tiba, menjadi bunga-bunga yang berseri di taman hati, membuat wajah dan hidup kita merona menantikannya.
Adalah merupakan sebuah anugrah yang menguatkan jikalau ada kawan seiring yang selalu bersama berbagi dalam perjalanan ini, namun tidak selamanya hal itu terjadi, Kawan. Ada kalanya kita membutuhkan kesendirian untuk akhirnya bisa memahami dengan sempurna ketenangan, kecukupan dan kenyamanan yang sejati. Bukankah jikalau Dia beserta kita, itu sudah cukup bagi kita?
Kawan, ingatlah Tujuan perjalanan kita adalah akherat, untuk menemui Sang Khaliq. Menerima kenyataan pahit atau manis di dalam hidup merupakan bagian dari mengukur kebahagiaan. Orang yang paling bahagia di dunia ini, tidak setiap saat merasa bahagia. Pada kenyataannya, semua orang yang paling bahagia pun  pernah merasakan suasana hati yang buruk, masalah, kekecewaan dan sakit hati. Kebanyakan orang membuat keadaan tidak menyenangkan itu menjadi semakin parah. Ketika mereka merasa sedang susah, mereka menyingsingkan lengan baju dan berusaha mengenyahkannya… Mereka berusaha memaksa diri mereka untuk keluar dari keadaan suasana hati yang buruk itu, yang cenderung akan menambah rumit masalah, bukannya mencari solusi. Orang yang bahagia menyikapi depresi, kemarahan, stress, dengan sikap terbuka dan bijak. Mereka tidak melawan perasaan ini dan menjadi panik, hanya karena merasa tidak enak, akan tetapi mereka menerimanya dan menyadari bahwa nanti juga badai akan berlalu…”
Kawan, tak ada kekayaan dan kejayaan yang abadi, begitu juga sebaliknya, tak ada kesuraman yang abadi. Semuanya silih berganti seperti bergantinya siang dan malam. Karena itu, jangan sampai kelalaian membenamkan kita ke dalam kubangan yang kelak menghancurkan masa depan. Jangan sampai kita mempertuhankan materi dalam hidup ini. Sebab, saat ini, baik si kaya maupun si miskin, keduanya berlomba mempertuhankan materi, sehingga melalaikan tugas dan misi utama mereka hidup di dunia ini, yakni menyembah Allah ‘Azza wa Jalla.
Kawan, banyak yang lupa bahwa dunia sejatinya adalah sebuah halte, tempat persinggahan untuk menuju terminal terakhir, alam yang kekal dan abadi, kehidupan akhirat. Saat ini kita berkelana di atasnya sebagai seorang pengembara atau musafir. Yang sadar sedang menempuh satu perjalanan yang sangat jauh. Di sanalah kelak kita akan menuai kebahagiaan yang sejati, sebagaimana juga akan menuai penderitaan yang abadi. Ingatlah firman Allah, “Tetapi kamu orang-orang kafir memilih kehidupan dunia. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” QS al-A’la [87]: 16-17.
Kawan, selamat melanjutkan perjalanan. Semoga Allah berkahi mu……..